Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menyelenggarakan kuliah umum internasional pada Jumat, 4 Juli 2025, bertajuk “Coexistence Not Reconciliation: Rethinking Traditional Peace Strategies in Post-Conflict Regions.” Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Dr. Christopher R. Duncan, Associate Professor of Anthropology dari Rutgers University – Newark, Amerika Serikat, yang telah dikenal luas melalui riset-riset kritisnya tentang agama, kekerasan komunal, dan dinamika pascakonflik di kawasan Indonesia Timur, khususnya di Halmahera, Maluku Utara.
Dalam presentasinya, Dr. Duncan menyampaikan kritik tajam terhadap kecenderungan sebagian kalangan akademisi maupun pengambil kebijakan yang terlalu cepat merayakan keberhasilan pendekatan rekonsiliasi berbasis adat atau tradisional. Ia menunjukkan bahwa dalam kasus-kasus seperti Halmahera, konsep rekonsiliasi sering kali digunakan oleh elit lokal untuk membungkus kenyataan sosial yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai coexistence atau hidup berdampingan secara damai namun penuh jarak dan ketegangan.

“Revitalisasi simbol-simbol adat seperti hibualamo telah dianggap sebagai upaya membangun perdamaian, namun kenyataannya tidak semua pihak merasakan proses itu sebagai rekonsiliasi yang menyentuh pengalaman traumatik mereka secara mendalam,” tegas Duncan. Ia mendorong para peneliti dan pembuat kebijakan untuk lebih peka terhadap perbedaan pemaknaan antara elit dan masyarakat akar rumput, dan tidak terjebak pada narasi-narasi harmonisasi yang terlalu idealistik.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Aula Fakultas FUAD Gedung Egypt lantai 3 dan Zoom Meeting ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, peneliti, serta mitra akademik dari dalam dan luar UIN Bukittinggi. Diskusi berjalan dinamis, mencerminkan tingginya minat sivitas akademika terhadap tema perdamaian, agama, dan dinamika lokal pascakonflik.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FUAD, Dr. Zulfan Taufik, menyampaikan bahwa kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya FUAD untuk memperkuat tradisi riset kritis dan reflektif di kalangan dosen dan mahasiswa. “Kami percaya, memahami konflik dan perdamaian tidak cukup hanya dari data permukaan. Kita butuh pendekatan antropologis yang mendalam, yang memberi ruang bagi suara-suara pinggiran dan pengalaman nyata masyarakat. Kehadiran Dr. Duncan hari ini membantu kita melihat dengan lebih jernih tantangan rekonsiliasi di Indonesia,” ujar Dr. Zulfan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa FUAD UIN Bukittinggi tengah mengembangkan ekosistem riset interdisipliner yang menaruh perhatian besar pada isu-isu agama dan kearifan lokal. Kegiatan ini juga menjadi fondasi awal untuk membangun jejaring kolaborasi riset antara UIN Bukittinggi dan institusi-institusi internasional, termasuk Rutgers University.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dan rencana tindak lanjut berupa publikasi ilmiah, serta penjajakan kerja sama riset tematik antara FUAD dan lembaga mitra. Dari sini diharapkan lahir kajian-kajian yang tidak hanya akademis, tetapi juga relevan bagi penguatan perdamaian di masyarakat akar rumput.


