Bukittinggi, 11 November 2025 – Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Suriani, M.A., menjadi narasumber dalam kegiatan Lecturer Exchange Series 2025 yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (UNIMED).
Dalam kuliah daring bertema “VOC di Sumatera Utara dan Sumatera Barat”, Suriani, M.A. menguraikan secara mendalam mengenai strategi kolonialisme VOC di dua wilayah utama Pulau Sumatera — Oostkust van Sumatra (Pantai Timur) dan Westkust van Sumatra (Pantai Barat) — serta bagaimana kondisi geografis dan struktur politik lokal memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan VOC dalam menguasai kedua kawasan tersebut.

Menurut Suriani, wilayah Pantai Timur Sumatera yang mencakup Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan memiliki struktur politik feodal yang dikuasai oleh kesultanan Melayu serta dipengaruhi kuat oleh Kesultanan Aceh dan Johor-Riau. Dalam konteks ini, VOC menghadapi berbagai hambatan, mulai dari kesetiaan politik yang tidak stabil, kondisi geografis yang luas dan sulit diawasi, hingga tingginya biaya operasional. “Meski VOC mencoba membangun pos-pos perdagangan kecil, dominasi Aceh dan perlawanan lokal membuat mereka sulit menanamkan kontrol efektif di kawasan timur,” jelasnya.
Sebaliknya, di wilayah Pantai Barat Sumatera, VOC menunjukkan penetrasi yang lebih kuat. Sejak mendirikan pos perdagangan di Padang pada tahun 1663–1664 dan membangun Benteng Prins Hendrik, VOC berhasil menjadikan Padang sebagai pusat operasi utama mereka. Dengan memanfaatkan perpecahan internal di Kerajaan Minangkabau, VOC menjalin perjanjian dengan penghulu-penghulu nagari dan menerapkan sistem monopoli perdagangan yang ketat. Namun, langkah tersebut memicu perlawanan adat dari berbagai nagari yang menolak hegemoni VOC, mencerminkan semangat kemandirian masyarakat Minangkabau yang berlandaskan filosofi “Alam Takambang Jadi Guru.”

Dalam paparannya, Suriani juga menyoroti perbandingan komoditas ekonomi di kedua wilayah. Di Oostkust, VOC berdagang lada, kamper Barus, benzoin, emas, dan hasil hutan, sedangkan di Westkust, komoditas utama meliputi lada hitam, kopi, kayu manis, emas, serta tekstil tenun tradisional Minangkabau. Perbedaan ini menunjukkan variasi sumber daya dan potensi ekonomi yang turut membentuk karakter kolonialisme VOC di Sumatera.
Lebih lanjut, ia menjelaskan penyebab kemunduran dan pembubaran VOC pada tahun 1799, termasuk korupsi internal, mismanajemen keuangan, serta dampak eksternal dari revolusi dan blokade perdagangan di Eropa. Setelah pembubaran, wilayah Westkust mengalami kontinuitas kolonial dengan sistem tanam paksa dan Perang Padri (1803–1837), sementara Oostkust sempat mengalami kekosongan kekuasaan sebelum dikuasai pemerintah kolonial Belanda.

Menutup sesi kuliah, Suriani menekankan pentingnya menggunakan sumber-sumber sejarah digital seperti Sejarah Nusantara (ANRI), Nationaal Archief Nederland, dan Digital Collections Leiden University untuk memperkaya penelitian sejarah kolonial. “Mempelajari VOC tidak hanya berarti menelusuri catatan kolonial, tetapi juga menghidupkan kembali suara dan perspektif lokal yang selama ini terpinggirkan,” ujarnya.
Kegiatan Lecturer Exchange Series ini merupakan bagian dari Implementation of Agreement antar Prodi Sejarah Peradaban Islam FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Universitas Negeri Medan yang bertujuan untuk memperluas jejaring ilmiah, memperkuat kompetensi mahasiswa, serta menumbuhkan kesadaran kritis terhadap sejarah kolonialisme di Indonesia. Pihak Fakultas Ilmu Sosial UNIMED memberikan apresiasi atas partisipasi Suriani, M.A. yang telah memberikan wawasan baru tentang dinamika sejarah Sumatera dalam konteks kolonial.

