Ngaji Ramadhan Pusat Kajian Ekoteologi FUAD: Ekoteologi dan Ekosufisme dalam Perspektif Islam

Bukittinggi — Pusat Kajian Ekoteologi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menggelar kegiatan Ngaji Ramadhan: Islam dan Ekoteologi — Sesi 1 pada Selasa, 24 Februari 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Sesi perdana ini mengangkat tema “Ekoteologi dan Ekosufisme: Dimensi Spiritual Islam dalam Membangun Kesadaran Ekologis.”

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Pusat Kajian Ekoteologi FUAD, Dr. Zulfan Taufik. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi memiliki mandat akademik sekaligus moral untuk mengembangkan kajian keislaman yang responsif terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan kontemporer. Ia menjelaskan bahwa kegiatan Ngaji Ramadhan ini merupakan salah satu agenda Pusat Kajian Ekoteologi selama bulan Ramadhan yang diselenggarakan dalam tiga seri setiap hari Selasa. Selain seminar dan diskusi ilmiah, pusat kajian juga memiliki program strategis lain seperti riset kolaboratif, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, pengembangan publikasi ilmiah, serta kegiatan berbasis komunitas yang berorientasi pada penguatan kesadaran ekologis berbasis agama.

Sesi pertama menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Syafwan Rozi, M.Ag. dan Reni Dian Anggraini, M.Ag., dengan moderator Khairul Amin, M.Phil. Dalam paparannya, Prof. Syafwan Rozi menyoroti bahwa krisis ekologis global merupakan salah satu tantangan peradaban terbesar abad ini, yang ditandai oleh perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, serta eksploitasi sumber daya alam secara masif. Menurutnya, pendekatan teknologis dan kebijakan saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan tersebut tanpa perubahan paradigma mendasar mengenai relasi manusia dengan alam.

Ia menegaskan bahwa tradisi intelektual Islam, khususnya teologi dan tasawuf, memiliki kontribusi penting dalam membangun etika ekologis yang berakar pada kesadaran spiritual. Secara khusus, Prof. Syafwan mengangkat pemikiran sufi klasik Ibn ‘Arabi, yang memandang alam sebagai manifestasi (tajalli) dari kehadiran Ilahi. Dalam perspektif Ibn ‘Arabi, seluruh ciptaan memiliki nilai sakral karena merupakan penampakan sifat-sifat Tuhan, sehingga merusak alam berarti mengabaikan dimensi ketuhanan yang hadir di dalamnya.

Ia juga menjelaskan konsep wahdat al-wujud sebagai kerangka ontologis yang menempatkan manusia dan alam dalam kesatuan eksistensial di bawah kehendak Tuhan. Dari sudut pandang ini, relasi manusia dengan alam bukan relasi dominasi, melainkan relasi amanah dan tanggung jawab. Spiritualitas sufistik, menurutnya, mendorong sikap empatik, rendah hati, dan penuh kasih terhadap seluruh makhluk, yang pada akhirnya menjadi dasar bagi kesadaran ekologis yang mendalam.

Sementara itu, narasumber kedua, Reni Dian Anggraini, mengangkat pemikiran filsuf dan cendekiawan Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr. Ia menjelaskan bahwa Nasr memandang krisis lingkungan modern sebagai manifestasi dari krisis spiritual manusia modern yang terputus dari dimensi sakral alam. Dalam pandangan Nasr, modernitas telah melahirkan paradigma antroposentris dan materialistik yang memandang alam semata sebagai objek eksploitasi.

Reni menekankan bahwa menurut Nasr, solusi terhadap krisis ekologis tidak cukup dengan reformasi teknologi atau kebijakan lingkungan, tetapi memerlukan rekonstruksi pandangan dunia yang mengakui kembali kesucian alam sebagai ciptaan Tuhan. Alam, dalam tradisi Islam klasik, dipahami sebagai “kitab kosmik” yang memuat tanda-tanda Ilahi (ayat kauniyah), sehingga merawat lingkungan merupakan bagian dari penghambaan kepada Tuhan.

Ia juga menyoroti pentingnya revitalisasi spiritualitas dan kearifan tradisional dalam membangun kembali harmoni antara manusia dan alam. Tanpa dimensi spiritual, upaya pelestarian lingkungan cenderung bersifat pragmatis dan tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, Reni menegaskan bahwa ekoteologi Islam perlu dikembangkan sebagai pendekatan integratif yang menghubungkan iman, etika, dan praksis ekologis.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait implementasi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari dan dalam konteks dakwah serta pendidikan Islam. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FUAD maupun UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, serta peserta umum dari berbagai daerah.

Melalui kegiatan ini, Pusat Kajian Ekoteologi berharap dapat meningkatkan literasi dan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai Islam, sekaligus menjadikan Ramadhan sebagai momentum refleksi spiritual yang berdampak pada perubahan sikap dan perilaku terhadap lingkungan.

Seri Ngaji Ramadhan ini akan berlanjut pada dua sesi berikutnya yang membahas perspektif lingkungan lintas agama serta tantangan dakwah ekologis, sebagai bagian dari upaya memperkaya diskursus akademik dan kontribusi keagamaan dalam merespons krisis ekologis global.