Bukittinggi – Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kembali menegaskan komitmennya dalam melahirkan lulusan berkualitas melalui penyelenggaraan Yudisium Angkatan ke-12 yang dilaksanakan pada Kamis, 09 April 2026. Bertempat di Aula Lantai 3 Gedung Muhammad Hatta, prosesi ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan, menghadirkan suasana akademik yang sarat makna simbolik sekaligus menjadi tonggak penting dalam perjalanan intelektual para mahasiswa yang secara resmi dikukuhkan sebagai lulusan FUAD.
Pada kesempatan tersebut, sebanyak 88 lulusan sarjana ditetapkan sebagai peserta yudisium, yang berasal dari enam program studi sarjana, yaitu Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) sebanyak 5 orang, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) 26 orang, Ilmu Hadis (ILHA) 6 orang, Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) 29 orang, Sejarah Peradaban Islam (SPI) 8 orang, serta Sosiologi Agama (SA) 14 orang. Komposisi ini mencerminkan keberagaman disiplin keilmuan yang dikembangkan di lingkungan FUAD sekaligus menunjukkan kontribusi berkelanjutan fakultas dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di ranah keilmuan Islam, sosial-humaniora, dan praktik keagamaan di masyarakat.
Rangkaian acara dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan pembukaan oleh pembawa acara, diikuti dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai peneguhan identitas kebangsaan dalam bingkai akademik. Nuansa religius yang menjadi ciri khas FUAD tampak dalam pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Ihsan dari Program Studi IAT, yang kemudian ditutup dengan doa oleh Rendi Syahputra, juga dari program studi yang sama. Kehadiran elemen-elemen ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga merepresentasikan integrasi antara dimensi spiritual dan intelektual dalam tradisi akademik keislaman.
Puncak prosesi yudisium ditandai dengan pembacaan Keputusan Dekan oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Ratnawilis, S.Ag., MM., yang secara administratif mengesahkan kelulusan para mahasiswa. Momen ini dilanjutkan dengan pemasangan selempang yudisium oleh ketua program studi masing-masing kepada para lulusan, sebagai simbol legitimasi akademik sekaligus pengakuan atas capaian studi yang telah ditempuh. Ekspresi haru dan kebanggaan tampak jelas di wajah para lulusan, mencerminkan perjalanan panjang yang telah dilalui dengan penuh dedikasi dan ketekunan.

Dimensi apresiasi akademik semakin menguat ketika Massu Hendro, SE., JFT Arsiparis, membacakan pengumuman lulusan terbaik dan penulis skripsi terbaik. Penghargaan ini tidak sekadar bersifat simbolik, melainkan menjadi indikator pengakuan institusional terhadap kualitas capaian akademik mahasiswa, khususnya dalam aspek penguasaan metodologi penelitian, konsistensi intelektual, serta kontribusi ilmiah yang relevan dengan dinamika sosial-keagamaan. Sambutan tepuk tangan yang meriah dari hadirin menandai adanya kebanggaan kolektif sivitas akademika terhadap prestasi yang diraih.


Selanjutnya, orasi ilmiah yang disampaikan oleh Dr. M. Rezi, M.A. memberikan refleksi kritis mengenai posisi dan peran sarjana agama di tengah arus disrupsi teknologi informasi. Ia menekankan bahwa transformasi digital tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka ruang baru bagi praksis keilmuan dan pengabdian. Dalam konteks ini, para lulusan didorong untuk menjaga marwah intelektual di ruang siber serta memanfaatkan media sosial sebagai medium dakwah dan pengabdian profesional yang tetap berakar pada nilai-nilai wahyu dan etika keislaman.
Pada bagian akhir acara, Dekan FUAD, Prof. Dr. Syafwan Rozi, M.Ag., menyampaikan amanat yang menekankan dimensi tanggung jawab epistemik dan moral dari ilmu pengetahuan yang telah diperoleh para lulusan. Dalam pesannya, ia menegaskan, “Gelar akademik yang saudara sandang hari ini bukanlah titik akhir, melainkan titik awal dari pengabdian intelektual. Ilmu yang diperoleh harus dijalankan dengan integritas, dikembangkan dengan kejujuran ilmiah, dan diabdikan untuk kemaslahatan umat.” Ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan menuntut lulusan FUAD untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan nilai, seraya menambahkan, “Jadilah intelektual Muslim yang tidak hanya cakap secara keilmuan, tetapi juga bijak dalam bersikap, terutama di ruang publik dan ruang digital.”
Dengan terselenggaranya Yudisium Angkatan ke-12 ini, FUAD menegaskan harapannya agar para lulusan mampu menjaga nama baik almamater, mengimplementasikan ilmu secara bertanggung jawab, serta mengambil peran strategis di tengah masyarakat sebagai intelektual Muslim yang berintegritas, adaptif, dan solutif. Para lulusan diharapkan tidak hanya menjadi agen reproduksi pengetahuan, tetapi juga aktor transformasi sosial yang mampu menghadirkan nilai-nilai keislaman yang mencerahkan dalam kehidupan berbangsa dan berperadaban.


