Bukittinggi – Pusat Kajian Ekoteologi Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menyelenggarakan International Guest Lecturer pada Rabu, 3 Juni 2026, dengan menghadirkan Koen Broersma, M.Sc., Senior Technical Consultant (Urban) Water Management dari Belanda. Mengangkat tema “High and Dry: The Devil May Care”, kegiatan ini mengajak peserta merefleksikan hubungan antara krisis lingkungan, tanggung jawab manusia, dan peran agama dalam membangun masa depan yang berkelanjutan. Kegiatan yang berlangsung di Aula FUAD tersebut dipandu oleh Khairul Amin, M.Phil. sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Broersma menjelaskan bahwa berbagai persoalan ekologis yang dihadapi dunia saat ini tidak dapat dipahami semata-mata sebagai fenomena alam. Ia membedakan antara natural hazard dan natural disaster. Menurutnya, natural hazard merupakan ancaman alamiah seperti gempa bumi, banjir, atau kekeringan, sedangkan natural disaster terjadi ketika ancaman tersebut bertemu dengan kerentanan yang diciptakan manusia melalui tata kelola lingkungan yang buruk, eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan sosial, dan lemahnya mitigasi. Karena itu, banyak bencana yang sesungguhnya tidak hanya disebabkan oleh alam, tetapi juga oleh keputusan dan tindakan manusia sendiri.

Broersma juga menyoroti pentingnya perspektif ekoteologi dalam merespons krisis lingkungan global. Menurutnya, persoalan ekologis bukan hanya masalah teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Ia menjelaskan bahwa agama memiliki wajah ganda dalam relasinya dengan alam. Di satu sisi, sebagian tafsir keagamaan dapat mendorong pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan alam sebagai objek eksploitasi. Pandangan ini mengingatkan pada kritik Lynn White Jr. yang menilai bahwa tradisi keagamaan tertentu turut berkontribusi pada lahirnya krisis ekologis modern.
Namun di sisi lain, agama juga menyimpan sumber daya etis yang sangat kuat untuk membangun kesadaran lingkungan. Nilai-nilai tentang tanggung jawab, keseimbangan, keadilan, dan amanah terhadap alam hadir dalam berbagai tradisi keagamaan, termasuk Islam. Karena itu, agama dapat menjadi kekuatan penting dalam mendorong perubahan perilaku dan membangun budaya keberlanjutan.
Salah satu gagasan yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai konsep ghaflah yang dipadukan dengan institutional power. Broersma menjelaskan bahwa ghaflah berarti kelalaian atau ketidakpedulian terhadap tanggung jawab moral. Ketika sikap abai tersebut bertemu dengan kekuatan politik, ekonomi, atau institusional yang besar, maka dampaknya dapat melahirkan kerusakan ekologis yang semakin luas. Dalam konteks inilah ia memaknai frasa “The Devil May Care” sebagai metafora bagi budaya ketidakpedulian yang telah mengakar dalam berbagai kebijakan dan praktik pembangunan. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini bukanlah kurangnya pengetahuan mengenai krisis lingkungan, melainkan kurangnya kepedulian untuk bertindak.
Direktur Pusat Kajian Ekoteologi FUAD, Dr. Zulfan Taufik, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa kehadiran pakar internasional seperti Koen Broersma sangat penting dalam memperkaya perspektif sivitas akademika mengenai isu-isu lingkungan global. Menurutnya, dialog antara ilmu pengetahuan, pengalaman praktis, dan nilai-nilai keagamaan dapat menjadi jembatan untuk mengontekstualisasikan ajaran-ajaran agama yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Isu lingkungan tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga kesadaran etis dan spiritual. Kehadiran para pakar internasional seperti Koen Broersma membantu kita melihat bagaimana nilai-nilai agama dapat diterjemahkan secara kontekstual dalam menjawab tantangan ekologis kontemporer. Upaya ini penting sebagai bagian dari kontribusi bersama untuk menyembuhkan bumi yang sedang sakit ini,” ujarnya.
Kegiatan yang dihadiri oleh dosen, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan ini berlangsung interaktif dengan berbagai diskusi mengenai hubungan agama, etika lingkungan, dan tantangan keberlanjutan di era perubahan iklim. Melalui kegiatan ini, Pusat Kajian Ekoteologi FUAD berharap dapat terus memperkuat dialog antara ilmu pengetahuan dan agama dalam membangun kesadaran ekologis serta mendorong lahirnya respons yang lebih adil dan bertanggung jawab terhadap berbagai krisis lingkungan yang dihadapi dunia saat ini.


