Meningkatkankan Sikap Toleransi Beragama di Kalangan Pelajar SMA Negeri 2 Bukittinggi

Bukittinggi, 18 September 2026 – Alumni sekaligus Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) melakukan seminar dan diskusi bersama siswa dan siswi SMA N 2 Bukittinggi dalam rangka pelaksanaan RTL (Rencana Tindak Lanjut) dari Sekolah Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), PUSAD Paramadina Jakarta. Dengan tema “Kenalan Dulu, Gudgingnya Nanti”.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 18 September 2026, bertempat di ruang belajar SMA N 2 Bukittinggi ini menjadi ruang pengenalan bahwa perbedaan agama dan keyakinan bukanlah alasan untuk saling menghindar, menghakimi maupun memaksakan keyakinan kepada orang lain. Kegiatan edukasi ini dilaksanakan bersama peserta didik, Relima Bukittinggi dan Guru dalam kegiatan ekstrakurikuler bidang Pancasila.

Kegiatan ini menghadirkan Fitrawati, M.Ag selaku narasumber. Dalam kegiatan tersebut, para pelajar diajak untuk memahami pentingnya toleransi dalam keberagaman masyarakat, seperti perbedaan agama dan keyakinan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tema yang dipilih sebagai bentuk dari ajakan terhadap generasi muda agar tidak langsung memberikan penilaian terhadap perbedaan yang ditemui. Karena seringkali, dibalik perbedaan yang terlihat, ada pengalaman, cerita dan latar belakang yang belum diketahui. Mengenali dan memahami merupakan langkah awal dalam membangun sikap saling menghormati dan menghargai.

Melalui materi yang disampaikan, Fitrawati memperkenalkan kepada peserta didik tentang konsep kebebasan beragama dan berkeyakinan, termasuk kebebasan internum (internal) dan externum (eksternal). Kebebasan internum tentang kebebasan yang dimiliki seseorang dalam memilih, memiliki dan dan meyakini agama tanpa ada paksaan. Sedangkan kebebasan eksternum tentang bagaimana keyakinan yang dipilih dapat diekspreikan dan dijalankan dalam kehidupan dengan tetap menghormati hak orang lain dan tanpa pelanggaran ketentuan hukum.

Dengan metri tersebut, para pelajar dapat memahami pentingnya membedakan antara mengharagi keyakinan orang lain dan mencampuri hak individu sebagai pilihan pribadi. Para pelajar juga diharapkan untuk tidak langsung memberikan penilaian, stigma dan intervensi terhadap keyakinan orang lain, apabila melihat tradisi, cara ibadah dan praktik keagamaan yang berbeda.

Toleransi tidak dipahami sebagai harus menyetujui pandangan dan praktik keagamaan yang berbeda, tetapi toleransi mengajarkan untuk tetap teguh pada keyakinannya sendiri dan memberi ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinanya secara aman dan nyaman. Perbedaan tidak harus dibicarakan melalui penghakiman, pemaksaan dan prasangka, namun dapat dibicarakan melalui dialog yang terbuka dan inklusif.

Pendekatan yang digunakan dekat dengan kehidupan remaja. Para pelajar diajak untuk merefleksikan pengalaman mereka dalam berinteraksi dalam pertemanan, keluarga dan lingkungan sekolahnya. Sikap menghargai perbedaan dapat dimulai dari hal yang sederhana, seperti mendengarkan cerita teman, tidak memaksakan pendapat kepada orang lain dan tidak menjadikan agama orang lain sebagai bahan ejekan.

Pemahaman tentang toleransi dan kebebasan beragama dan berkeyakinan penting bagi pelajar sebagai generasi penerus bangsa dalam menghidupkan nilai-nilai Pancasila. Perbedan dalam lingkungan sekolah dapat menjadi ruang belajar untuk menumbuhkan empati, mengembangkan kemampuan berdialog dan membangun pertemanan yang aman dan damai.

Kegiatan ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Bukittinggi merupakan salah satu bentuk Rencana tindak lanjut dari  Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), PUSAD Paramadina. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari dari kegiatan tersebut kemudian dibagikan kembali kepada para peserta didik sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam lingkungan pendidikan.

Pembelajaran tentang KBB tidak berhenti pada pelatihan dan ruang diskusi, tetapi diupayakan hadir dalam kehidupan sehari-hari, melalui tindak lanjut tersebut. Dalam memperkenalkan nilai-nilai toleransi sejak ini, sekolah menjadi ruang strategis untuk membangun kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak untuk dihormati tanpa harus kehilangan identitas dan keyakinannya.

Dalam kegiatan ini terangkum semangat dan pesan sederhana, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka sulit untuk menghargai.  Dengan mengenal orang lain kita tidak diharuskan menjadi sama, tetapi belajar memahami bahwa dalam kehidupan bersama memiliki masyarakat yang beragam.

Tema Kenalan Dulu, Judjingnya Nanti merupakan ajakan terhadap para peserta didik untuk membangun kebiasaan sebelum menilai seseorang pentingnya untuk memberi ruang mengenal dalam menyikapi keberagaman. Luangkan waktu untuk memahami sebelum berprasangka, sadari bahwa setiap orang memiliki hak yang harus dihormati, sebelum ikut campur dalam keyakinannya.

Dari SMA Negeri 2 Bukittinggi, diharapkan pesan toleransi ini dapat tumbuh menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari, pertemanan, masyarakat dan sekolah. Perbedaan bukanlah alasan untuk memisahkan diri, melainkan jembatan untuk mengenal, mehami dan hidup berdampingan secara damai.