FUAD UIN Bukittinggi Sukses Gelar The 3rd International Conference on Religion and Local Wisdom (ICRL 2026)

Bukittinggi, 6–7 Oktober 2026 — Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kembali menggelar konferensi internasional tahunannya, The 3rd International Conference on Religion and Local Wisdom (ICRL 2026). Konferensi yang berlangsung selama dua hari secara daring ini mengangkat tema krusial: “Religion, Locality, and Climate Crisis”.

Kegiatan internasional ini diselenggarakan atas kerja sama FUAD UIN Bukittinggi dengan Pusat Kajian Ekoteologi serta Rumah Jurnal UIN Bukittinggi.

Menjawab Krisis Iklim Melalui Etika Keagamaan dan Kearifan Lokal

Latar belakang pemilihan tema tahun ini berakar dari urgensi krisis iklim global yang kian terasa dan berdampak pada masyarakat rentan. Konferensi ini menegaskan bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak hanya membutuhkan pendekatan teknologi dan kebijakan, tetapi juga pergeseran etika, nilai, dan pandangan hidup. Tradisi keagamaan dan sistem pengetahuan lokal dinilai memiliki wawasan moral, spiritual, dan ekologis yang penting dalam memandang alam sebagai amanah yang harus dijaga dan dilestarikan.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si, didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FUAD, Dr. Zulfan Taufik, M.A. Hum. Ketujuh sesi konferensi difasilitasi oleh panitia di bawah arahan Ketua Panitia Dr. Darul Ilmi, M.Pd dan Dewan Penasihat Prof. Dr. Syafwan Rozi, M.Ag.

Menghadirkan Pakar Internasional di Sesi Pleno (Plenary Session)

Pada sesi pleno, hadir sejumlah narasumber ternama tingkat nasional dan internasional yang memaparkan sudut pandang akademis dari berbagai disiplin ilmu:

  1. Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kemenag RI) – Memaparkan materi mengenai Kurikulum Berbasis Cinta Kasih di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebagai Landasan Solusi Masalah Sosial dan Lingkungan.
  2. Prof. Anna M. Gade, Ph.D. (University of Wisconsin-Madison, AS) – Membahas Climate Changes Everything: Through a Decolonial Lens, menyoroti keterkaitan etika Islam dan ilmu lingkungan melalui kacamata dekolonial.
  3. Prof. Dr. Novel Lyndon (Universiti Kebangsaan Malaysia) – Menyampaikan riset mengenai Agama, Pengetahuan Lokal, dan Tata Kelola Iklim serta ketahanan komunitas di Borneo.
  4. Dr. Safaa Alwedyan (Department of Geography, University of Jordan, Yordania) – Memaparkan riset kualitatif mengenai bagaimana rumah tangga di Yordania menerjemahkan nilai-nilai lingkungan Islam (israf, khalifah, amanah, mizan) ke dalam praktik keberlanjutan sehari-hari.
  5. Prof. Dr. Mostapha Ziggaf, Lc., M.A. (Abdelmalek Essaadi University, Maroko) – Membahas praktik ekologis dan etika lingkungan dalam perspektif Islam.
  6. Dr. Muhamad Rezi, M.A. (UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi) – Mengangkat pemikiran Falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru” dalam Dialog dengan Tanda-Tanda Ciptaan dalam Al-Qur’an.

Diskusi Paralel Interdisipliner

Selain sesi pleno, ICRL 2026 juga menyajikan sesi paralel (Parallel Sessions) yang diikuti oleh para peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri (seperti India, Pakistan, dan Yordania). Sesi paralel ini terbagi ke dalam enam subtema utama:

  • Eco-Tafsir and Cosmic Verses: Kajian ayat-ayat ekologi, tafsir Al-Qur’an terkait lingkungan, dan etika penanganan isu lingkungan.
  • Eco-Hadith in Facing Modern Environmental Crises: Etika lingkungan berbasis Hadis Nabi, ketahanan pesisir, serta etika pengelolaan air.
  • Local Wisdom and Environmental Conservation in Islamic Theology: Peran tradisi lokal (seperti Lubuk Larangan, Sasi, dan Eco-Sufisme) dalam teologi lingkungan.
  • Local Wisdom and Eco-Friendly Traditions in Islamic History: Perspektif Sejarah Islam, pendidikan kewarganegaraan global, dan model fikih ekologi berbasis budaya.
  • Digital Da’wah Transformation: Transformasi dakwah di era algoritma media sosial, analisis literasi digital, hingga isu AI dan otoritas keagamaan digital.
  • Local Communities and Environmental Movements: Peran gerakan masyarakat lokal, etika iklim, serta gerakan sufisme Melayu.

Melalui penyelenggaraan ICRL 2026 ini, FUAD UIN Bukittinggi berharap dapat memperkuat jejaring akademis internasional serta melahirkan rekomendasi pemikiran dan aksi nyata berbasis keagamaan dan kearifan lokal untuk menjawab tantangan krisis lingkungan global.