Monthly Discussion Ekoteologi: Mengurai Krisis Lingkungan dari Perspektif Historis dan Budaya

Bukittinggi — Center for Ecotheology Studies FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kembali menggelar Monthly Discussion bertajuk “Krisis Lingkungan dari Perspektif Sejarah dan Budaya” pada Senin (27/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan FUAD ini menghadirkan dua narasumber, Dedi Arsa, M.Hum., dan Doni Nofra, M.Hum., dengan moderator Naziratul Khairat, M.Hum. Diskusi ini merupakan bagian dari agenda rutin pusat kajian dalam mengembangkan ruang dialog interdisipliner, di samping kegiatan lain seperti kuliah tamu, workshop, serta riset dan publikasi ilmiah di bidang ekoteologi.

Dalam pemaparannya, Dedi Arsa mengangkat perspektif historis dengan menyoroti pengalaman kolonial di pantai barat Sumatera. Ia menunjukkan bahwa proyek kolonial VOC tidak hanya berhadapan dengan resistensi sosial, tetapi juga dengan kerentanan ekologis alam tropis yang kompleks—mulai dari banjir, gempa bumi, hingga penyakit dan ancaman fauna liar—yang secara konsisten mengganggu stabilitas kekuasaan kolonial. Berbagai upaya teknokratik seperti pembangunan bendungan dan sistem drainase terbukti tidak mampu sepenuhnya mengendalikan dinamika alam tersebut.

Dari sini, Dedi Arsa menegaskan bahwa alam tidak dapat dipahami sebagai latar pasif dalam sejarah, melainkan sebagai entitas yang memiliki agensi. Kolonialisme, dengan demikian, bukan hanya proses dominasi manusia atas manusia, tetapi juga proses negosiasi yang terus-menerus antara manusia dan lingkungan. Pembacaan ini sekaligus menjadi kritik terhadap cara pandang modern yang antroposentris dan terlalu mengandalkan rasionalitas teknis dalam mengendalikan alam.

Sementara itu, Doni Nofra menghadirkan perspektif kontemporer berbasis pengalaman masyarakat adat, dengan fokus pada Suku Anak Dalam (Orang Rimba) di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi. Ia menjelaskan bahwa bagi Orang Rimba, hutan merupakan ruang hidup total—bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga identitas dan ruang sakral yang menopang seluruh sistem kehidupan mereka. Dalam kosmologi mereka, alam diposisikan sebagai “ibu” yang harus dijaga, yang tercermin dalam berbagai aturan adat seperti larangan menebang pohon tertentu dan perlindungan wilayah kelahiran.

Namun, ekspansi ekonomi modern melalui deforestasi dan pembukaan lahan di sekitar kawasan TNBD telah menimbulkan tekanan serius terhadap ekosistem dan kehidupan Orang Rimba. Fragmentasi habitat, pencemaran air, serta hilangnya sumber pangan tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memicu krisis sosial dan kultural. Doni Nofra juga menekankan bahwa perubahan iklim bagi komunitas ini tidak dipahami secara abstrak, melainkan melalui hilangnya “tanda-tanda alam” yang selama ini menjadi dasar pengetahuan dan pola hidup mereka.

Jika pemaparan Dedi Arsa menunjukkan bagaimana alam menjadi kekuatan yang membatasi dan bahkan menggagalkan ambisi kolonial, maka paparan Doni Nofra memperlihatkan bagaimana komunitas lokal justru membangun relasi yang lebih harmonis dengan alam, meskipun kini berada dalam tekanan sistem ekonomi modern. Kedua perspektif ini bertemu pada satu titik penting: bahwa krisis lingkungan tidak semata persoalan teknis, tetapi berkaitan erat dengan cara manusia memahami, memaknai, dan berelasi dengan alam.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari dosen, mahasiswa, dan peserta umum. Berbagai pertanyaan mengemuka, terutama terkait bagaimana mengintegrasikan perspektif historis, kearifan lokal, dan pendekatan ilmiah dalam merumuskan respons terhadap krisis iklim saat ini.

Melalui kegiatan ini, Center for Ecotheology Studies menegaskan pentingnya pendekatan ekoteologi yang integratif—yang tidak hanya menggabungkan analisis saintifik, tetapi juga refleksi filosofis, historis, dan kultural—dalam membangun paradigma baru relasi manusia dan alam. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong kesadaran bahwa keberlanjutan ekologis pada dasarnya adalah persoalan etika dan peradaban, bukan sekadar isu lingkungan semata.