Selangor, 15 Juli 2026 — Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berpartisipasi dalam kegiatan diskusi dan curah pendapat mengenai dakwah, aktivisme, dan advokasi lingkungan yang diselenggarakan di Universiti Islam Selangor (UIS), Malaysia.
Kegiatan tersebut melibatkan tim peneliti dari UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan Universiti Islam Selangor, serta perwakilan Pertubuhan Alam Sekitar Sejahtera Malaysia atau Grass Malaysia dan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM).
Partisipasi UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dalam kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan penelitian berjudul “Interfaith Environmentalism: Religious Networks and Ecological Activism in Indonesia and Malaysia.” Penelitian tersebut bertujuan mengkaji peran jaringan keagamaan dan gerakan aktivisme ekologi dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan di Indonesia dan Malaysia.
Tim peneliti dari UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terdiri atas Dr. Zulfan Taufik, Muhammad Fajri, M.Sos., dan Abdul Gaffar, M.Sosio. Tim berkolaborasi dengan peneliti UIS yang dipimpin oleh Dr. Noor Hafizah Mohd. Haridi, Pensyarah Kanan sekaligus Penolong Dekan Bidang Inovasi dan Penyelidikan UIS.
Dalam pertemuan tersebut, para peneliti menggali pengalaman dan perspektif Grass Malaysia serta ABIM mengenai integrasi nilai-nilai dakwah dengan gerakan pelestarian lingkungan. Diskusi juga membahas strategi advokasi, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan jaringan keagamaan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam.
Grass Malaysia merupakan organisasi yang berada dalam jaringan dakwah ABIM dan memberikan perhatian khusus pada bidang advokasi serta keberlanjutan lingkungan. Organisasi tersebut diwakili oleh Presiden Grass Malaysia, M. Yusaimi Yusof, dan Wakil Presiden, Khairul Ridhwan Adha Akhyar.
Dalam pemaparannya, M. Yusaimi Yusof menjelaskan bahwa dakwah lingkungan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian pesan-pesan keagamaan secara lisan, tetapi juga melalui penguatan kesadaran masyarakat terhadap hikmah, nilai budaya, dan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.
Salah satu bentuk kearifan lokal tersebut dapat dilihat pada desain rumah tradisional Melayu. Arsitektur rumah tradisional dirancang dengan mempertimbangkan sirkulasi udara, kondisi cuaca, penggunaan bahan-bahan alami, serta keselarasan bangunan dengan lingkungan sekitarnya. Praktik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Melayu sejak dahulu telah memiliki pengetahuan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
M. Yusaimi Yusof dan Khairul Ridhwan Adha Akhyar juga memaparkan berbagai program yang telah dilaksanakan Grass Malaysia sejak tahun 2014. Program tersebut mencakup pelatihan, pendidikan lingkungan, pendampingan masyarakat, serta kegiatan yang memperkenalkan hubungan antara kelestarian alam dan kesehatan manusia.
Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah terapi berbasis alam untuk membantu pemulihan kesehatan mental dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari dakwah lingkungan yang menghubungkan aspek spiritual, sosial, kesehatan, dan kelestarian alam.
Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Penolong Setiausaha Agung ABIM, Muhammad Dzul Aiman Zulkefly. Kehadiran ABIM memperkuat pembahasan mengenai pentingnya keterlibatan organisasi keagamaan dan kepemudaan dalam mendorong gerakan lingkungan yang berkelanjutan.
Dr. Zulfan Taufik menyampaikan bahwa diskusi tersebut memberikan informasi dan perspektif penting bagi pengembangan penelitian, khususnya dalam memahami bagaimana nilai-nilai agama diterjemahkan menjadi gerakan sosial dan ekologis di tengah masyarakat.
Kolaborasi ini juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi dan organisasi masyarakat sipil dari Indonesia dan Malaysia. Melalui pertemuan tersebut, para peneliti dapat memperoleh data lapangan mengenai praktik dakwah lingkungan, strategi advokasi, serta model pemberdayaan masyarakat yang telah dijalankan oleh Grass Malaysia dan ABIM.
Keikutsertaan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dalam penelitian lintas negara ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi Islam dalam menjawab persoalan lingkungan. Selain menghasilkan publikasi ilmiah, penelitian ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi dan model dakwah lingkungan yang relevan untuk diterapkan dalam konteks masyarakat Indonesia dan Malaysia.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa dakwah memiliki cakupan yang luas. Dakwah tidak hanya berkaitan dengan penyampaian ajaran agama, tetapi juga mencakup upaya menjaga kehidupan, melindungi lingkungan, memperkuat kesejahteraan masyarakat, dan membangun tanggung jawab bersama terhadap keberlanjutan bumi.

