FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Gelar Orientasi Mahasiswa Baru S2 dan S3 Aqidah dan Filsafat Islam

Bukittinggi — Program Studi Magister dan Doktor Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menggelar Orientasi Mahasiswa Baru S2 dan S3 AFI, Sabtu (29/8/2026), di Aula FUAD Lantai 3. Kegiatan berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB dan diikuti oleh dosen serta 11 mahasiswa Program Magister dan Doktor Aqidah dan Filsafat Islam.

Kegiatan orientasi diawali dengan pembukaan oleh Penmardianto, M.A, Sekretaris Program Studi S2 Aqidah dan Filsafat Islam, yang bertindak sebagai pembawa acara atau MC. Setelah membuka kegiatan dan menyampaikan susunan acara, MC mempersilakan Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Dekan FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Syafwan Rozi, M.Ag, selanjutnya memberikan sambutan dan secara resmi membuka kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru Program Magister dan Doktor Aqidah dan Filsafat Islam.

Setelah pembukaan oleh Dekan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi utama berupa penyampaian materi orientasi oleh Wakil Dekan I FUAD, Dr. Zulfan Taufik, MA.Hum. Sesi materi tersebut dimoderatori oleh Muhamad Fajri, M.Sos, selaku Sekretaris Program Studi S3 Aqidah dan Filsafat Islam.

Dalam penyampaian materi, mahasiswa baru diperkenalkan dengan identitas akademik Program Magister dan Doktor Aqidah dan Filsafat Islam. Program ini mengembangkan kajian Aqidah dan Filsafat Islam secara kritis, kontekstual, dan integratif, menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan kearifan lokal, membaca berbagai persoalan kontemporer melalui perspektif keagamaan dan filosofis, serta mendorong budaya riset, penulisan, publikasi, dan jejaring akademik.

Program Magister dan Doktor AFI memiliki visi “Menjadi Program Magister dan Doktor yang Unggul dalam Pengembangan Ilmu Aqidah dan Filsafat Islam berbasis Kearifan Lokal di Tingkat Asia Tenggara pada Tahun 2047.” Visi tersebut menegaskan orientasi pengembangan program pada keunggulan akademik, kearifan lokal, pengembangan pengetahuan, dan kontribusi keilmuan dalam lingkup Asia Tenggara.

Dalam materi orientasi juga dijelaskan bahwa distingsi keilmuan AFI dibangun melalui empat lapis utama, yakni aqidah, filsafat Islam, kearifan lokal, dan isu kontemporer. Keempat unsur tersebut menjadi dasar dalam membangun karakter akademik Program Magister dan Doktor AFI melalui integrasi tradisi keilmuan Islam, kearifan lokal, dan pembacaan kritis terhadap berbagai persoalan kontemporer.

Mahasiswa juga mendapat gambaran mengenai ruang-ruang riset yang dapat dikembangkan selama menjalani studi. Bidang tersebut antara lain teologi dan pemikiran Islam, filsafat Islam dan filsafat agama, studi agama dan pluralisme, moderasi beragama dan demokrasi, kearifan lokal dan indigenous knowledge, ekoteologi dan environmentalism, gender, agama dan masyarakat, serta digital religion dan public sphere.

Pada jenjang magister, mahasiswa diarahkan untuk membangun kompetensi sebagai peneliti madya, dosen, dan penyuluh keagamaan. Kompetensi utama yang perlu dikembangkan meliputi kemampuan membaca secara kritis, melakukan penelitian, menulis, mempresentasikan gagasan, dan mempublikasikan karya ilmiah.

Sementara pada jenjang doktoral, mahasiswa diarahkan untuk bergerak dari penguasaan pengetahuan menuju kemampuan menciptakan dan memberikan kontribusi baru terhadap pengetahuan. Profil lulusan S3 meliputi akademisi, peneliti utama, dan konsultan, dengan standar doktoral yang menekankan pada original contribution to knowledge, penelitian mandiri, publikasi ilmiah, serta kepemimpinan akademik.

Dr. Zulfan Taufik juga menjelaskan roadmap studi yang harus ditempuh mahasiswa. Program Magister AFI memiliki beban 54 SKS, yang mencakup tahapan fondasi keilmuan, pengayaan, produksi ilmiah, seminar proposal, hingga penelitian dan penulisan tesis. Mahasiswa S2 didorong untuk mulai memikirkan topik tesis dan target publikasi sejak awal masa studi, bukan menunggu semester akhir.

Adapun Program Doktor AFI memiliki beban 46 SKS, dengan tahapan studi yang mencakup penguatan fondasi teologi Islam, filsafat Islam, tasawuf dan lokalitas, konstruksi keilmuan, teori religious studies, metodologi penelitian, seminar proposal, academic writing, seminar hasil, ujian tertutup, hingga finalisasi disertasi dan ujian terbuka.

Selain menjelaskan aspek kurikulum dan perjalanan studi, materi orientasi juga menekankan pentingnya membangun budaya akademik sejak semester pertama. Mahasiswa magister diarahkan untuk melalui tahapan academic reading, menemukan research interest, merumuskan research question, menyusun proposal, melakukan penelitian, menghasilkan publikasi, hingga menyelesaikan tesis.

Sementara itu, mahasiswa doktoral diarahkan untuk bertransformasi dari advanced learner menjadi knowledge producer. Transformasi tersebut dibangun melalui kemampuan membaca literatur primer dan mutakhir, menemukan kesenjangan penelitian, membangun problematisasi, menetapkan kebaruan atau kontribusi ilmiah, melakukan penelitian, mempublikasikan hasil penelitian, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Budaya penelitian dan publikasi menjadi salah satu poin penting dalam orientasi. Mahasiswa didorong untuk membangun ekosistem akademik melalui kegiatan membaca jurnal, buku, dan sumber primer, berdiskusi dalam seminar, FGD dan reading group, melakukan penelitian secara metodologis dan etis, menulis artikel, tesis, disertasi maupun buku, serta mempublikasikan karya pada jurnal nasional dan internasional. Mahasiswa juga didorong untuk membangun jejaring akademik melalui konferensi dan kolaborasi ilmiah.

Publikasi ditegaskan bukan sebagai aktivitas tambahan dalam pendidikan pascasarjana, tetapi merupakan bagian dari ekosistem pembelajaran. Karena itu, kegiatan membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, mempublikasikan karya, dan membangun jejaring akademik perlu dimulai sejak semester pertama.

Materi orientasi turut memberikan perhatian terhadap integritas akademik. Mahasiswa diingatkan agar setiap gagasan dan data yang berasal dari sumber lain diberikan atribusi yang benar, menjaga orisinalitas karya, serta menghindari plagiarisme, self-plagiarism, fabrikasi, dan falsifikasi. Penelitian juga harus dilakukan dengan menghormati partisipan, data, konteks budaya, dan prinsip-prinsip etika penelitian.

Penggunaan kecerdasan buatan atau AI serta berbagai perangkat digital juga menjadi bagian dari pembahasan. Mahasiswa diarahkan untuk menggunakan perangkat digital secara transparan, kritis, dan sesuai dengan kebijakan akademik. Prinsip utamanya adalah setiap praktik akademik harus jujur, dapat dipertanggungjawabkan, dan dapat diaudit secara akademik.

Selain itu, mahasiswa baru diperkenalkan dengan sistem dukungan akademik yang dapat dimanfaatkan selama menjalani studi, mulai dari ketua dan sekretaris program studi, dosen penasihat akademik, dosen pembimbing, bagian akademik fakultas, perpustakaan dan basis data ilmiah, hingga sistem akademik dan layanan teknologi informasi.

Melalui kegiatan orientasi ini, Program Magister dan Doktor Aqidah dan Filsafat Islam FUAD UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berupaya memberikan pemahaman awal kepada mahasiswa mengenai arah keilmuan, proses studi, budaya akademik, penelitian, publikasi, serta tanggung jawab menjaga integritas ilmiah.

Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadikan pendidikan pascasarjana sebagai proses menyelesaikan SKS dan memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun cara berpikir kritis, menghasilkan penelitian yang bermakna, mengembangkan karya ilmiah, dan memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan serta masyarakat.

Semangat tersebut terangkum dalam pesan akademik Program Magister dan Doktor AFI: “Belajar dengan rasa ingin tahu. Meneliti dengan integritas. Menulis dengan argumentasi. Berkontribusi dengan pengetahuan.”