Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Dr. Zulfan Taufik, tampil sebagai narasumber utama sekaligus pembicara pertama dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) dengan tema “Sufisme Perenial Masyarakat Urban”, Jumat (10/04/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 50 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan pemerhati studi keislaman dalam diskusi yang mengangkat persoalan krisis eksistensial manusia modern di tengah kehidupan urban yang serba cepat, rasional, dan kompetitif.
Dalam pemaparannya, Dr. Zulfan menjelaskan bahwa materi yang disampaikan berangkat dari hasil riset disertasinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah diterbitkan menjadi buku berjudul “Sufisme Perenial Masyarakat Urban” oleh Penerbit Kencana bekerja sama dengan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

Ia mengkritik asumsi klasik teori sekularisasi yang memandang modernitas sebagai faktor yang akan meminggirkan agama, khususnya dimensi mistik seperti sufisme. Menurutnya, realitas kontemporer justru menunjukkan hal sebaliknya. “Modernitas tidak memarginalkan sufisme, tetapi justru memfasilitasi revitalisasi dan transformasinya. Sufisme hadir dalam bentuk baru yang lebih adaptif terhadap kehidupan urban,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa sufisme kontemporer mengalami pergeseran dari bentuk-bentuk tarekat konvensional menuju ekspresi spiritual yang lebih fleksibel, terbuka, dan kontekstual. Dalam konteks ini, ia memperkenalkan konsep sufisme perennial sebagai kerangka analitis untuk memahami fenomena tersebut. Konsep ini, yang sebelumnya berkembang dalam diskursus Barat, dilokalisasi dalam konteks Indonesia untuk menjelaskan bagaimana sufisme mampu menjawab kebutuhan spiritual masyarakat urban.
Dr. Zulfan juga menekankan pentingnya integrasi antara filsafat perennial, sebagaimana dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Frithjof Schuon dan Seyyed Hossein Nasr, dengan praktik sufisme empiris. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan kita melihat bahwa pengalaman spiritual tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memiliki dimensi universal yang melampaui batas-batas formal agama.
Dalam konteks ini, ia menyoroti dimensi esoterik sebagai titik temu antaragama. “Kesatuan agama tidak terletak pada aspek eksoterik seperti ritual dan doktrin, melainkan pada dimensi batin yang bersifat universal. Di sinilah sufisme memainkan peran penting sebagai basis dialog antaragama yang lebih mendalam,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa sufisme dalam masyarakat urban dapat dipahami sebagai bentuk post-secular spirituality, yakni bentuk keberagamaan baru yang tidak menolak modernitas, tetapi justru bernegosiasi dan bertransformasi di dalamnya. Spiritualitas tidak lagi hadir dalam bentuk institusional yang kaku, melainkan sebagai pengalaman personal yang reflektif dan transformatif.
Sebagai pembicara kedua, Dr. M. Subhi Ibrahim, Direktur Paramadina Graduate School of Islamic Studies Universitas Paramadina, memberikan respons kritis sekaligus pengayaan terhadap paparan tersebut. Ia menilai bahwa riset Dr. Zulfan memberikan kontribusi penting dalam mengisi kekosongan kajian tentang interrelasi sufisme dan filsafat perennial dalam konteks urban kontemporer.

Dr. Subhi kemudian memperluas perspektif dengan menyoroti dinamika urban sufism sebagai fenomena global yang tidak dapat dilepaskan dari krisis makna yang dialami manusia modern. Menurutnya, masyarakat urban hidup dalam situasi paradoks: secara material semakin maju, tetapi secara eksistensial semakin rapuh. “Di tengah rasionalitas yang dominan, manusia tetap mencari pengalaman transenden. Di sinilah sufisme menemukan relevansinya kembali,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa konsep perennial wisdom dapat menjadi jembatan untuk memahami pluralitas agama tanpa terjebak dalam relativisme. Dengan menempatkan dimensi esoterik sebagai pusat, perennialisme memungkinkan dialog antaragama yang berbasis pengalaman spiritual, bukan sekadar kompromi teologis.
Diskusi yang dimoderatori oleh Irsyad Muhammad berlangsung dinamis dan reflektif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan terkait relasi antara sufisme, modernitas, dan pluralisme agama, yang menunjukkan tingginya minat terhadap kajian ini sebagai respons atas problem kehidupan kontemporer.
Melalui kegiatan ini, ASAFI diharapkan terus menghadirkan ruang-ruang diskusi ilmiah yang tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan spiritual masyarakat modern. Kehadiran Dr. Zulfan Taufik sebagai narasumber utama juga menegaskan peran strategis dosen FUAD dalam mengembangkan kajian aqidah, filsafat, dan tasawuf yang relevan dengan dinamika zaman.

