Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam kembali menghadirkan ruang diskusi akademik melalui pelaksanaan Studium General bertajuk “Relasi Filsafat Perennial, Ekologi, dan Kearifan Lokal Minangkabau” yang dilaksanakan pada Rabu (6/5/2026) di Aula Gedung Muhammad Hatta Lantai 3. Kegiatan ini menjadi wadah refleksi bersama mengenai hubungan antara manusia, alam, spiritualitas, dan budaya lokal di tengah meningkatnya persoalan lingkungan global. Acara tersebut dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen-dosen Aqidah dan Filsafat Islam, sejumlah dosen lintas disiplin ilmu, serta mahasiswa yang memenuhi aula dengan antusiasme tinggi.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Riki Saputra, M.A. menyampaikan pandangan filosofis mengenai akar krisis ekologis modern. Selain dikenal sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Dr. Riki merupakan doktor bidang filsafat lulusan Universitas Gadjah Mada yang selama ini aktif mengembangkan kajian filsafat perennial dan pemikiran adat Minangkabau. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak semata-mata lahir dari lemahnya teknologi atau kebijakan, melainkan juga disebabkan oleh hilangnya kesadaran spiritual manusia terhadap alam.
Ia menjelaskan bahwa filsafat perennial memandang alam bukan sekadar benda material yang dapat dieksploitasi, tetapi bagian dari realitas sakral yang memiliki keterhubungan dengan kehidupan manusia. Mengutip pemikiran Seyyed Hossein Nasr, Frithjof Schuon, dan René Guénon, Dr. Riki menilai bahwa modernitas telah melahirkan pola pikir yang memisahkan manusia dari dimensi spiritualitas alam. Akibatnya, relasi manusia dengan lingkungan berubah menjadi hubungan yang bersifat eksploitatif dan kehilangan nilai etis.
Dalam konteks budaya Minangkabau, Dr. Riki menegaskan bahwa masyarakat Minang sejatinya memiliki warisan filosofi yang sangat dekat dengan prinsip-prinsip ekologis. Falsafah “alam takambang jadi guru”, menurutnya, mengajarkan bahwa manusia perlu belajar dari keseimbangan alam dan menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan. Sementara prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menunjukkan bahwa nilai adat dan ajaran Islam saling terhubung dalam membentuk tanggung jawab moral terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan.
Ketua Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Muallim Lubis, M.Pem.I, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya prodi untuk memperluas wawasan mahasiswa dalam membaca persoalan-persoalan kontemporer melalui pendekatan filsafat dan nilai-nilai keislaman. Ia berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan yang relevan bagi kehidupan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Suasana diskusi berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai relevansi filsafat perennial dan kearifan lokal dalam menghadapi isu perubahan iklim, persoalan sampah, hingga krisis lingkungan yang semakin nyata di tengah masyarakat modern. Melalui kegiatan ini, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam menegaskan pentingnya membangun kesadaran ekologis yang tidak hanya bertumpu pada pendekatan ilmiah dan teknologi, tetapi juga pada kekuatan etika, spiritualitas, dan kebudayaan lokal sebagai fondasi kehidupan yang berkelanjutan.


